Kejahatan Cybersquatting: Penjelasan dan Contoh Kasusnya

Kejahatan Cybersquatting: Penjelasan dan Contoh Kasusnya

Cybersquatting adalah istilah yang merujuk pada penyerobotan nama domain. Di beberapa negara, kasus cybersquatting ini tidak begitu berbahaya dan dilegalkan untuk digunakan. Kendati demikian, Amerika Serikat termasuk negara yang tidak melegalkan cybersquatting ini.

Hal tersebut karena cybersquatting sering digunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk penyerangan atau bahkan tindakan kejahatan siber. Salah satu contoh kasus cybersquatting yang pernah terjadi di Indonesia adalah situs BCA yang terjadi di awal tahun 2000-an.

Ingin tahu lebih lengkap tentang kejahatan cybersquatting dan contoh kasusnya? Simak informasi lengkapnya pada artikel yang sudah Dewaweb rangkum untuk kamu di bawah ini.

Baca juga: Web Application Firewall (WAF): Pengertian dan Manfaatnya

Apa Itu Cybersquatting?

Cybersquatting sebetulnya tindakan yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun pada sebagian orang, cybersquatting ini bisa merugikan dan menyebabkan beberapa kerugian. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, cybersquatting adalah kasus penyerobotan nama domain.

Lebih jelas, menurut buku Penegakan Hukum Tindak Pidana Cyber Crime di Indonesia, cybersquatting adalah tindakan di mana seseorang mendaftar, menjual, atau menggunakan nama domain orang lain dengan maksud untuk mengambil suatu keuntungan.

Umumnya, nama-nama domain yang digunakan adalah orang-orang terkenal, sehingga keuntungan yang didapatkan bisa berlipat ganda. Untuk menindaklanjuti kasus ini, penyelesaiannya bisa dengan menggunakan prosedur Anticybersquatting Consumer Protection Act (ACPA).

Sementara itu, dalam buku Cyber Warfare: Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?, cybersquatting adalah jenis kejahatan siber yang dilakukan dengan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain, kemudian oknum tersebut akan berusaha menjualnya kepada perusahaan dengan harga yang lebih mahal.

Menurut sumber lain, cybersquatting termasuk ke dalam bentuk pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Artinya, pelanggaran ini sangat dilarang untuk dilakukan karena dapat berisiko besar bagi beberapa orang.

Baca juga: Apa itu Zero Day Attack? Pengertian dan Cara Menghindarinya

Awal Mula Cybersquatting

Berdasarkan penjelasan singkat tentang pengertian cybersquatting di atas, dapat diketahui bahwa tindakan ini termasuk ke dalam kejahatan siber. Pada awal mulanya, praktik ini diawali karena banyaknya pengusaha bisnis yang tidak paham bagaimana cara menjualkan produknya ke internet.

Oleh karena itu, beberapa wirausahawan mulai mendaftarkan nama-nama perusahaan terkenal sebagai nama domain, dengan tujuan untuk menjual kembali nama-nama domain tersebut dengan harga yang lebih mahal dari semestinya.

Baca juga: Waspada Serangan Pharming, Ini Cara Menghindarinya!

Akibat Serangan Cybersquatting

Sebagai informasi, setiap kejahatan siber yang dilakukan oleh oknum tertentu, sudah pasti akan memberikan dampak yang berbahaya bagi korbannya. Terlebih, tujuan dari cybersquatting itu adalah mengelabui para pengguna internet agar percaya pada brand yang memang sedang dicari oleh calon korban, seperti Netflix dan lain sebagainya.

Lebih lengkap, apa saja kira-kira yang disebabkan akibat dari serangan cybersquatting? Berikut informasinya, yaitu:

Phishing

Salah satu kasus yang dialami Wells Fargo menyebutkan bahwa oknum yang melakukan cybersquatting pada perusahaannya melakukan pencurian informasi pelanggan yang penting dan rahasia. Istilah lain dari pencurian informasi tersebut dikenal sebagai phishing.

Penyebaran Malware

Selanjutnya adalah penyebaran malware. Lebih lanjut, malware adalah singkatan dari malicious software. Penyebaran malware ini bertujuan untuk membahayakan, menyusup, atau merusak sebuah komputer. Contoh kasus cybersquatting yang menyebabkan penyebaran malware adalah domain yang mencatut nama Samsung.

Serangan Command dan Control

Serangan command dan control atau command and control attack adalah jenis serangan siber yang menyebabkan para hackernya bisa mengonrol PC individu dan menyuntikkan malware ke dalam komputer tersebut. Contoh kasus cybersquatting yang menyebabkan terjadinya serangan command and control yakni yang mencatut domain Microsoft.

Potentially Unwanted Program (PUP)

Adapun akibat lain dari cybersquatting yakni Potentially Unwanted Program (PUP). Jenis kejahatan siber ini bisa menyebabkan komputer berjalan lebih lambat dari biasanya, menampilkan iklan yang tidak diharapkan. Kemudian, kemungkinan terburuknya adalah menginstal perangkat lunak lain yang lebih berbahaya dan mengganggu.

Baca juga: Tips untuk Meningkatkan Keamanan Website Kamu

Contoh Kasus Cybersquatting di Indonesia

Cybersquatting bukan hal yang asing lagi di Indonesia. Pasalnya sudah terjadi beberapa kasus cybersquatting yang pernah terjadi, salah satunya adalah kasus KlikBCA pada awal tahun 2000-an. Pada saat itu, pelaku membuat website dengan memanfaatkan domain yang mirip seperti Klik BCA.

Tidak sampai disitu, situs BCA juga pernah mengalami cybersquatting lagi. Pada saat itu, ditemukan situs palsu pra kerja yang sudah tersebar luas di beberapa media sosial dan WhatsApp. Sebagai informasi, situs untuk mendaftarkan pra kerja hanya ada di situs prakerja.go.id.

Apabila digabungkan dengan berbagai kasus cybersquatting yang ada di Indonesia dan dunia. Sudah terdapat 2.595 kasus squatting dengan domain berbahaya yang kerap mendistribusikan malware dan phishing. Adapun 5.104 squatting domain yang memiliki risiko tinggi bagi pengunjung yang tidak sengaja atau sengaja mengunjungi.

Baca juga: Control Panel Hosting: Penjelasan, Fungsi, dan Tips Memilihnya

Sudah Tahu Apa itu Cybersquatting?

Cybersquatting adalah tindakan di mana seseorang mendaftar, menjual, atau menggunakan nama domain orang lain dengan maksud untuk mengambil suatu keuntungan. Kejahatan siber ini bisa menimbulkan berbagai macam akibat, seperti penyebaran malware, phishing, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, terdapat beberapa kasus cybersquatting, salah satunya adalah situs domain pra kerja BCA yang dimanipulasi. Sayangnya, situs tersebut sudah tersebar di media sosial dan WhatsApp, sehingga menimbulkan beberapa korban.

Untuk menghindari terjadi cybersquatting, gunakan alamat domain yang sudah terverifikasi keamanannya. Dengan begitu, website bisa menjadi lebih aman dan terhindar dari cybersquatting.