Apa itu Startup? Penjelasan & Daftar Startup Terbesar Indonesia

Apa itu Startup? Penjelasan & Daftar Startup Terbesar Indonesia

Beberapa tahun belakangan, Indonesia telah masuk dalam euforia startup. Banyak pengusaha muda beramai-ramai menciptakan startup dengan berbagai inovasi yang kreatif dan solutif. Startup kini semakin berkembang pesat berkat kemajuan teknologi dan internet.

Meski istilah startup sudah sangat familiar, namun tak sedikit pula yang masih belum paham definisi, sejarah, dan perbedaan startup dengan bisnis konvensional. Mau tahu lebih lanjut? Baca artikel ini sampai selesai ya!

Apa itu Startup?

Secara singkat, startup adalah perusahaan rintisan yang masih dalam proses pengembangan untuk menemukan pangsa pasar atau market share dan mengembangkan produknya. Startup juga identik dengan perusahaan yang memanfaatkan internet dan teknologi sebagai dasarnya.

Biasanya, startup berjalan dengan struktur organisasi yang kecil, sistem kerja remote, sistem operasional sesuai kebutuhan, rutin membarui riset pasar, dan serba cepat dalam mengambil keputusan. Bersifat inovatif dan sangat fleksibel, startup selalu berkembang, berinovasi dan mampu beradaptasi dengan segala perubahan.

Baca Juga: 5 Tokoh Sukses di Balik Marketplace Terbesar Indonesia

Menurut Investopedia, startup adalah perusahaan yang berfokus pada satu produk atau layanan yang ingin dibawa oleh foundernya ke pasar. Perusahaan-perusahaan ini biasanya belum memiliki model bisnis yang sepenuhnya berkembang dan sebagian besar didanai oleh pendiri mereka sebelum mencari bantuan pendanaan dari investor.

Ciri-Ciri Perusahaan Startup

Sebuah perusahaan bisa dibilang sebagai startup karena memiliki ciri dan karakteristik seperti berikut:

1. Bersifat inovatif dan solutif

Karaktertistik yang pertama adalah bersifat inovatif. Artinya, harus punya gebrakan baru untuk menciptakan solusi atas permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Mereka harus dapat memberikan solusi yang “berbeda” dari yang sudah ada. Agar inovasi yang diciptakan sejalan kebutuhan pasar, start up harus bisa melihat perspektif dari sudut pandang konsumen.

2. Go online

Sejak awal, start up menggunakan teknologi untuk mengembangkan bisnisnya, sehingga karakteristik utama mereka adalah selalu berada di ranah online.

Memiliki website perusahaan adalah hal yang wajib bagi sebuah start up. Website bukan hanya sebagai formalitas, melainkan digunakan untuk berbagai hal mulai dari media promosi, edukasi, branding, hingga tempat untuk menjual produk atau layanan.

Baca Juga: Startup-startup di Indonesia dan Peran dalam Membangun Indonesia

3. Mendapat dana dari investor

Investor sangat berperan penting dalam untuk pertumbuhan start up ke depan. Kendala dana yang terbatas membuat startup harus memiliki investor yang berperan sebagai penyuntik dana untuk modal awal pengembangan dan ekspansi.

Dana yang dikucurkan oleh investor tidak diberikan secara cuma-cuma. Investor tentu mengharapkan keuntungan yang bisa didapat dari investasinya.

Ada 3 tipe investasi di startup yang umumnya dilakukan oleh investor, yaitu:

  • Investasi saham (Ekuitas): Menjual atau memindahtangankan saham untuk memperoleh sejumlah dana dari investor. Sebagai gantinya, investor akan memiliki saham di perusahaan tersebut dan dianggap sebagai pemilik perusahaan untuk berhak mendapatkan keuntungan.
  • Investasi pinjaman pemegang saham (Shareholder Loan): Pemberian pinjaman dari pemegang saham perusahaan, dengan adanya kewajiban mengembalikan kepada investor dengan bunga dan waktu terntentu.
  • Pinjaman dengan gadai saham (Convertible Note): Investor akan meminjamkan sejumlah dana, yang dikemudian hari bisa ditarik kembali. Apabila startup tidak bisa membayar utang beserta bunga melewati jangka waktu tertentu, maka utang akan dikonversi menjadi saham.

4. Mengikuti program inkubator dan akselerator

Program ini berguna untuk membantu perkembangan start up, mulai dari pelatihan, mentoring, hingga pendanaan. Dengan begitu, para founder bisa mendapat pengetahuan tentang bagaimana mengelola dan mengembangkan bisnisnya. Dua program ini menghubungkan startup dengan para mentor profesional, senior founder, pebisnis, hingga investor.

Baca Juga: Mengenal AARRR, Metric yang Banyak Digunakan Startup

5. Bersifat fleksibel

Berbeda dengan perusahaan konvensional yang kaku dan punya birokrasi yang berbelit-belit, start up sangat fleksibel dan selalu bergerak dinamis sesuai kebutuhan pasar. Dengan struktur organisasi yang minim dan sistem operasional sesuai kebutuhan, mereka selalu berkembang dan berinovasi untuk beradaptasi dengan perubahan.

6. Memiliki pertumbuhan yang sangat pesat

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas membuat perusahaan startup memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Contohnya seperti Google yang mulanya adalah sebuah proyek algoritma untuk membangun mesin pencari. Kini, Google telah berkembang menjadi perusahaan teknologi terbesar dengan berbagai layanan seperti pengiklanan, email, hingga pengelolaan dokumen.

Sejarah Perkembangan Startup

Merebaknya perusahaan startup yang ada saat ini tentunya tidak hadir begitu saja di tengah masyarakat. Penasaran seperti apa perkembangannya dari dulu hingga sekarang?

Berikut ini sejarah perkembangan startup yang sudah Dewaweb rangkum untukmu.

Era Dot-com

Awal mula berdirinya startup diawali dengan era yang sering disebut “Dot-com” atau “The Dot-com Bubble”. Apa itu?

Era Dot-com terjadi di Amerika Serikat antara tahun 90-an hingga awal tahun 2000, di mana periode itu ditandai dengan berdirinya banyak perusahaan baru berbasis internet. Pada saat itu, internet dianggap sebagai penemuan hebat dan berprospek, sehingga banyak digunakan oleh berbagai kalangan.

Era Dot-com adalah puncak ketenaran internet di dunia, dan periode inilah yang menjadi permulaan munculnya perusahaan seperti Amazon dan eBay.

sejarah startup era dotcom

Semenjak itu, perusahaan beramai-ramai membuat website mereka sendiri. Kebanyakan situs yang dibuat ketika itu menggunakan domain .com. Karena semakin banyak website perusahaan berdomain .com, sehingga muncullah istilah era “The Dot-com Bubble” atau “Gelembung Dot-com” ini.

Singkatnya, era Dot-com adalah masa ketika perusahaan berbasis internet menarik minat investor sehingga memiliki nilai saham tinggi.

Hal ini menimbulkan persaingan ketat di dunia bisnis. Dalam beberapa kasus bahkan perusahaan berlomba-lomba menonjolkan sisi startup-nya dengan menambahkan awalan e- atau akhiran .com, dengan harapan bisa menaikkan harga saham mereka.

Seiring waktu, persaingan semakin tidak sehat sehingga sebagian besar startup tidak bisa mengatur keuangannya dengan baik. Pada akhirnya, tingginya kompetisi membuat banyak startup bangkrut dan hal ini menandai berakhirnya era Dot-com.

Baca Juga: Panduan Bisnis Online: Metode Lean Startup

Startup pertama di dunia

Meski fenomena Dot-com merupakan era di mana startup menjadi populer, namun bila dilihat kebelakang, konsep ini sejatinya telah ada di masa “Great Depression” tahun 1920-1930an.

Walaupun belum dapat dipastikan kapan awal mulanya era startup, namun kita bisa berasumsi bahwa startup memiliki banyak kesamaan dengan munculnya ekosistem bisnis Sillicon Valley. Bisa dibilang, startup pertama adalah perusahaan-perusahaan Sillicon Valley, seperti IBM misalnya.

International Business Machines (IBM) didirikan tahun 1911, kemudian berkembang menjadi salah satu produsen hardware, middleware, dan software terbesar di dunia.

Apple, Microsoft, dan Google bisa dibilang sebagai contoh perusahaan bermula dari startup yang kemudian berhasil menjadi leader di market. Contohnya Google yang tak hanya menemukan bentuk/niche mereka, namun juga mampu menciptakan niche-nya sendiri.

Startup pertama di Indonesia

startup di Indonesia

Mengutip sumber, awal terbentuknya ekosistem investasi startup digital di Indonesia dimulai tahun 2010. Bermula dari East Ventures yang menggelontorkan dana segar ke Tokopedia. Pada tahun yang sama juga, PT Telekomunikasi Indonesia menyuntikkan modal ke Blanja.com.

Beberapa perusahaan modal ventura di Indonesia pun kian bermunculan. Ekosistem startup digital bisa dibilang matang di tahun 2014. Perusahaan dari Singapura, Northstar Group menanamkan modal ke Gojek, yang saat ini merupakan salah satu unicorn di Indonesia dengan valuasi US$ 1 miliar.

Sejak itu, secara bersamaan ekosistem modal ventura dan startup digital melaju pesat. Di tahun 2021, jumlahnya di Indonesia telah mencapai 2319 dan menempati peringkat ke-5 di dunia, sekaligus terbanyak se-Asia Tenggara.

Beberapa startup yang pernah jadi early adopters di Indonesia adalah:

  • Gojek
  • Tokopedia
  • Bukalapak
  • Traveloka, dsb

Baca Juga: 7 Perempuan Sukses Pendiri Startup Indonesia

Perbedaan Startup vs Perusahaan Konvensional

Kamu sudah mengetahui definisi dan karakteristik startup. Nah, kalau kamu masih bingung antara perusaahaan startup dengan konvensional, berikut ini beberapa perbedaan di antara keduanya yang wajib kamu tahu!

Pendanaan

Para founder start up biasanya mengeluarkan dana ketika mulai merintis bisnis. Startup aktif mencari investor yang dapat menyuntikkan dana dengan harapan bisa memperoleh dana jutaan hingga miliaran dollar.

Bagi perusahaan konvensional, pendanaan biasanya berasal dari satu atau lebih pemilik perusahaan. Selain itu, dana juga bisa diputar kembali dari hasil keuntungan atau profit.

Segi operasional

Struktur organisasi di perusahaan startup cenderung ditentukan oleh founder atau manajemen. Investor sebagai penyuntik dana biasanya tak banyak mencampuri bisnis, mereka hanya terlibat untuk mengambil keputusan-keputusan strategis.

Di perusahaan konvensional, biasanya jalannya perusahaan dipengaruhi oleh kehendak pemilik perusahaan. Banyak perusahaan yang pemodal atau pemiliknya masuk dalam manajemen perusahaan.

Baca Juga: Growth Hacking untuk Startup

Tujuan

Start up merupakan perusahaan yang cenderung berisiko tinggi, karena masih harus menemukan model bisnis dan target marketnya. Startup biasanya memiliki tujuan menciptakan produk baru yang belum ada di pasaran. Karena sifatnya yang inovatif, terkadang produknya belum bisa diterima masyarakat sepenuhnya.

Perusahaan konvensional umumnya menggunakan produk model bisnis yang sudah terbukti menguntungkan agar bisa sesegera mungkin mendapatkan profit.

Level Valuasi Startup

Pernah mendengar istilah unicorn? Hal ini berkaitan dengan tingkatan valuasi sebuah perusahaan. Valuasi dipahami sebagai nilai ekonomis dari sebuah perusahaan yang dihitung dengan metode perhitungan valuasi oleh venture capital.

Berdasarkan level valuasinya, startup bisa digolongkan menjadi beberapa tingkatan:

tingkatan valuasi startup

1. Cockroach

cockroach startupLevel untuk perusahaan yang baru dirintis dan nilai valuasinya masih sedikit. Sebutan cockroach mengacu pada kecoa yang memiliki daya tahan hidup tinggi. Sebab, startup di level ini sedang giat untuk mempertahankan perusahaan dan mengenalkan perusahaannya untuk menarik investor.

Baca Juga: Mengenal Business Model Canvas dan Value Proposition Canvas untuk Membangun Sebuah Startup

2. Ponies

ponies startupLevel selanjutnya yaitu ponies, yang disimbolkan dengan kuda poni yang mungil. Istilah ini dipakai untuk perusahaan yang memiliki level valuasi hingga US$ 10 juta atau sekitar Rp140 miliar.

Tingkatan ini menandakan perusahaan berhasil berkembang dan terus berupaya meyakinkan investor untuk menanamkan modal agar nilai valuasinya semakin besar.

3. Centaurs

centaurs startupMakhluk mitologi Yunani berbentuk manusia setengah kuda ini dipilih sebagai simbol level valuasi selanjutnya. Centaur disematkan untuk perusahaan yang memiliki nilai valuasi hingga US$ 100 juta atau setara dengan Rp1,4 triliun. Dilansir Dailysocial, beberapa startup Indonesia yang berhasil memasuki level ini di tahun 2020 yaitu Sociolla, Halodoc, DANA, Ruangguru, Blibli.com, dan lainnya.

Baca Juga: Digital Marketing (Tips Bermanfaat untuk Startup)

4. Unicorn

unicorn Seringkali disebut-sebut, start up dengan level Unicorn memiliki valuasi hingga US$ 1 miliar atau setara dengan Rp14,1 triliun. Kini, Indonesia sudah memiliki beberapa startup unicorn, yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, OVO, Xendit, J&T Express, dan Ajaib.

Baca Juga: Perbedaan Unicorn, Decacorn, dan Hectocorn

5. Decacorn

decacorn Setelah Unicorn, adapula Decacorn yakni perusahaan yang memiliki nilai valuasi hingga US$ 10 miliar atau setara dengan Rp140 triliun. Grab menjadi Decacorn pertama di Asia Tenggara. Sementara itu dilansir dari DetikFinance, di tahun 2020 Gojek berhasil menjadi decacorn pertama asal Indonesia.

6. Hectocorn

hectocorn Rupanya, Decacorn bukanlah level valuasi start up tertinggi. Masih ada Hectocorn, sebagai startup yang ada di puncak valuasi tertinggi dengan nilai hingga US$ 100 miliar atau setara Rp1400 triliun! Perusahaan yang berhasil meraih gelar ini seperti Google, Microsoft, Apple, Facebook, Cisco dan Oracle.

Baca Juga: Kenapa Banyak Startup Yang Gagal?

Contoh Startup di Indonesia

Perusahaan startup di Indonesia telah ke berbagai bidang, mulai dari transportasi, perdagangan, pendidikan, pertanian, hingga kesehatan. Ini dia beberapa contoh startup asal Indonesia:

  • Gojek: digagas oleh Nadiem Makarim di tahun 2010, Gojek adalah aplikasi online yang memudahkan dalam memesan jasa transportasi. Kini telah menyediakan berbagai jasa seperti pengiriman makanan, barang, dan  alat pembayaran elektronik dengan GoPay. Startup ini resmi menjadi Unicorn dengan nilai valuasi US$1,3 miliar.
  • Tokopedia: diprakarsai oleh William Tanuwijaya pada tahun 2009, aplikasi belanja online ini sukses berkat kucuran dana yang sangat besar dari berbagai investor. Bahkan disebut sebagai startup dengan rekor pendanaan terbesar di Indonesia. Baru-baru ini Tokopedia merger dengan Gojek membentuk GoTo.
  • Ruangguru: adalah aplikasi belajar online yang menyediakan layanan bimbingan belajar terbaik dan terbesar di Indonesia. Di tahun 2019, Ruangguru memiliki pengguna sebanyak 15 juta. Jumlah ini naik sebesar 46% atau 7 juta selama tahun 2020.
  • Halodoc: aplikasi kesehatan online yang menawarkan berbagai layanan seperti konsultasi dengan dokter, pembelian obat, dan sebagainya.
  • Traveloka: fokus di bidang pariwisata dengan menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat, hotel, penyewaan mobil, hingga aktivitas wisata secara online. Sejak tahun 2015, Traveloka mulai berekspansi ke sejumlah negara di Asia Tenggara.
  • TaniHub: fokus di bidang pertanian yang membantu membangun ekosistem petani mulai dari pembiayaan, penanaman, hinga pemasasaran. Produk pertanian masuk ke dalam marketplace sehingga memotong biaya petani untuk memasarkan produknya.

Baca Juga: 8 Cara Membuat Bisnis Startup untuk Pemula

Startup Apa yang Akan Kamu Buat?

Kamu sudah mengetahui berbagai hal tentang startup, mulai dari definisi, sejarah, contohnya, hingga apa perbedaannya dengan perusahaan konvensional.

Kemajuan teknologi membuka banyak kesempatan di berbagai bidang untuk berkembang, contohnya dengan adanya start up yang menciptakan layanan berbasis online untuk memudahkan konsumen. Semoga artikel ini membantumu ya! Kamu juga bisa baca artikel informatif lainnya di blog Dewaweb. Salam sukses online!