dewaweb-blog-ayo-belajar-fotografi

Sudah memiliki kamera profesional semacam DSLR? Atau mungkin Anda baru melihat-lihat daftar harga kamera di berbagai website jual beli? Jadi, apakah Anda tertarik untuk mendalami fotografi? Jika ya, Anda perlu membaca artikel kali ini sebagai tahap awal pembelajaran Anda. Mari simak!

Apa itu Fotografi?

Fotografi adalah seni melihat dan menyeimbangkan cahaya. Istilah “fotografi” awalnya sering digunakan di negara Perancis. Namun istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani dan secara harafiah artinya yaitu “menggambar dengan cahaya”.

Istilah-istilah Teknis dalam Fotografi

Berikut adalah beberapa istilah teknis dalam fotografi yang perlu Anda kenali:

Aperture

Aperture ini letaknya ada di dalam lensa. Aperture bisa mengendalikan seberapa banyak cahaya dibiarkan melewati lensa menuju ke sensor. Aperture yang besar dapat memungkinkan banyak cahaya lewat. Ini berlaku juga sebaliknya, aperture/bukaan yang kecil bisa membuat cahaya yang masuk hanya sedikit. Mengetahui bagaimana aperture bisa memengaruhi sebuah foto merupakan satu bagian yang terpenting dalam fotografi. 

Jadi, aperture ini bisa memengaruhi:

  1. Jumlah cahaya masuk
  2. Depth of field-nya
  3. Kecepatan lensa menangkap gambar
  4. Ketajaman dari gambar
  5. Vignetting-nya

Angka F pada penggunaan aperture sebenarnya merupakan nomor matematika yang mengekspresikan diameter apertur. Simbol inilah yang jadi bagian penting dari memahami bagaimana aperture dan eksposur bisa bekerja. Semua angka F punya notasi yang umum, misalnya f/5.6 atau f/2.8. Lalu, ada pula beberapa set angka F yang biasa digunakan dalam fotografi. Ada beberapa skala yang berbeda namun standar dari skala angka F full-stop yaitu dari besar ke kecil:

  • f/1.4 
  • f/2
  • f/2.8
  • f/4
  • f/5.6
  • f/8
  • f/11
  • f/16
  • f/22 

Inilah yang dikenal sebagai angka F full-stop. Jika Anda menurunkan angka F satu full-stop contohnya dari f/4 ke angka f/2.8, ini artinya jumlah cahaya yang masuk akan dua kali lipat lebih banyak. Kemudian, jika Anda meningkatkan angka F satu full-stop, seperti f/5.6 ke angka f/8, maka jadinya cuma setengah jumlah cahaya yang nantinya bisa mencapai sensor. Anda mungkin bertanya-tanya mengapa angkanya kecil namun bukaannya lebih besar? Ini bisa terjadi karena angka tersebut sebenarnya berfungsi sebagai angka pembagi dari f (focal length).

Shutter

Shutter atau juga disebut rana merupakan mekanisme yang mengontrol berapa lama sensor bisa terkena cahaya. Semakin lama shutter membuka jadinya akan lebih banyak cahaya ditangkap oleh sensor.

Shutter ini bentuknya seperti bilah yang bisa membuka dan menutup dalam waktu cepat. Shutter speed yang tinggi mampu menghasilkan foto objek freeze atau tidak bergerak dan kecepatan rana lambat dapat pula menangkap gerakan dari obyek bergerak menjadi hasil gambar yang blur.

Ada pula skala stop untuk kecepatan shutter (mirip seperti pada aperture). Berikut adalah contohnya dalam detik/second:

1/16000, 1/8000, 1/4000, 1/2000, 1/1000, 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30, 1/15, 1/8, 1/4, 1/2, 1, 2, 4, 8, 16

Kemudian, masih sama dengan aperture, shutter speed pada umumnya juga dapat memiliki 1/3 skala, menghasilkan dua langkah diantara setiap full-stop. Misalnya antara 1/60 dan 1/125 bisa saja menggunakan 1/80 dan 1/100.

Dua faktor utama yang mengendalikan eksposur adalah shutter speed ini dan aperture yang sebelumnya sudah dijelaskan. Saat ini seiring dengan perkembangan teknologi pada kamera, ada pula electronic shutter dimana tidak lagi perlu melibatkan mekanisme bilah yang membuka dan menutup, tetapi menjadi sepenuhnya rekayasa elektronik saja.

ISO

Istilah ISO sebenarnya berasal dari Organisasi Internasional bagi Standarisasi. ISO merupakan ukuran kecepatan film atau sensitivitas terhadap cahaya. Pada kamera digital, ISO mempengaruhi sensor. Sebuah kecepatan ISO yang rendah butuh waktu lama untuk pencahayaan. Sedangkan kecepatan ISO tinggi perlu waktu cuma sedikit untuk memberikan eksposur yang sama.

Satu langkah pada ISO sama dengan satu full-stop. Pada ISO tidak ditemukan skala semacam 1/3. Berikut merupakan contoh kecepatan ISO yang paling umum:

ISO 50 100 200 400 800 1600 3200 6400 12800 25600

Intinya, jika tidak ada masalah pencahayaan maka Anda gunakan saja nomor ISO yang rendah. Namun jika memang Anda di dalam ruangan dengan cahaya rendah atau dalam kondisi lainnya ketika Anda menemukan kombinasi aperture/shutter saja tidak cukup, maka  perbesarlah kecepatan ISO. Sensor digital baru kini terus-menerus dikembangkan dan tingkat kebisingan dengan kecepatan ISO tinggi pun menurun pada setiap rilis kamera terbaru di pasaran.

Cloud Hosting Terbaik di Indonesia