Cara Menggunakan Heading Pada WordPress Bagi Pemula

Saat menulis blog, kamu tentunya ingin menghasilkan tulisan yang tidak hanya dapat menyampaikan informasi berguna, tapi juga mudah dipahami dan mengandung aspek-aspek SEO agar mendapat lebih banyak pembaca. Jika tulisan atau artikelmu menarik, besar kemungkinan para pembaca akan membuka blogmu lalu membaca tulisan lain sehingga blogmu akan ramai pengunjung. Selain judul yang menarik, salah satu cara yang dapat kamu gunakan adalah dengan menggunakan heading.

Iya, “headings” seperti fitur di Microsoft Word itu! Jika kamu pernah menggunakan heading di Ms Word, selamat, penggunaan heading di WordPress akan terasa lebih mudah. Namun, jika kamu belum pernah mendengar apalagi menggunakan fitur heading, Dewaweb akan menyampaikan informasi yang sangat berguna demi menunjang jumlah pengunjung blogmu.

Definisi Heading

Heading tidak hanya berguna secara visual (membedakan ukuran dan format tulisan), tapi juga berguna sebagai pengoptimisasi mesin pencari Google agar artikelmu lebih mudah terdeteksi. Berakar dari kata “head,” heading dapat berarti “kepala” atau judul yang mengawali sebuah pembahasan. Sama seperti di Ms Word, heading di WordPress juga berfungsi untuk membagi pembahasan menjadi beberapa subbab. Heading diperlukan pada hampir setiap artikel agar pembaca tidak merasa pusing atau bingung saat membaca tulisan di blog.

Heading 1 (H1) adalah heading paling penting yang harus kamu gunakan dalam setiap artikel, sebab H1 merupakan judul utama artikel atau halaman blogmu. Semakin besar angkanya, maka topik yang dibahas akan semakin berkurang kepentingannya. Oleh karena itu, kamu sebenarnya tidak perlu menggunakan seluruh headings dalam artikelmu jika tidak banyak subbab yang dibahas.

Fungsi Heading

Saat kamu mengklik panel di kiri atas halaman menulis artikel baru di blog WordPress, akan muncul beberapa pilihan seperti “Paragraph,” “Heading 1,” “Heading 2,” dan seterusnya hingga “Heading 6.” Headings ini berfungsi untuk membagi topik pembahasan yang dibuat dalam sebuah artikel. Biasanya, heading berisi kata kunci utama dalam artikel agar lebih mudah dideteksi oleh mesin pencari Google.

Agar kamu tidak bingung dalam penggunaan headings, tentukan terlebih dulu, poin-poin penting yang kamu bahas dalam artikel. Gunanya, agar pembaca mendapat gambaran mengenai topik apa saja yang dibahas dalam artikel tersebut. Selain itu, pembaca yang tidak ingin membaca keseluruhan artikel juga dapat segera menuju ke topik yang ingin mereka baca. Akan lebih baik jika heading-mu berisi kata kunci utama artikel yang kamu bahas.

Cara Menggunakan Heading

Usai memindahkan tulisanmu ke halaman “Add New Post” di blog WordPress, pastikan kamu sudah membaginya menjadi beberapa subbab. Setelah itu, tandai judul subbab yang telah kamu buat agar memudahkanmu mencari judul tersebut saat hendak diubah menjadi bagian dari heading. Sebaiknya, buatlah subbab baru jika tulisanmu sudah mencapai 5 paragraf.

Biasanya, orang yang membaca dari layar akan merasa kesulitan memproses paragraf panjang. Oleh karena itu, pastikan jumlah kalimat dari setiap paragraf tidak terlalu panjang. Namun bukan berarti kamu bisa membuat paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat. Buatlah paragraf singkat yang minimal terdiri dari 3 kalimat dan maksimal 5 kalimat agar keseluruhan tulisanmu lebih terlihat ringkas dan tidak berbelit-belit.

Jika kamu sudah siap mengubah judul subbabmu menjadi heading, block atau tandai judul tersebut. Ingat, jangan buat judul subbab hingga satu kalimat, carilah deskripsi sesingkat mungkin hingga menjadi bentuk frasa. Setelah itu, klik panel bertuliskan “Paragraph” di kiri atas kolom Body artikelmu. Pilih “Heading 2” (H2) sebagai penanda topik pertama subbab artikel.

Hal yang sama berlaku jika kamu membuat subbab lain yang ‘selevel’ dengan subbab pertamamu. Tandai frasa yang mewakili subbab lalu ubah menjadi H2. Contohnya adalah seperti gambar berikut ini.

Heading 3 (H3) dan seterusnya berlaku jika kamu membuat subbab lain yang membahas topik lebih mendetail. Artinya, H3 merupakan anak bab dari H2. Kamu bisa melihat perbedaan ukuran headings seperti gambar di bawah ini.

Pastikan kamu tidak melangkahi setiap headings. Misalnya, gunakan Heading 4 (H4) setelah kamu membuat subbab dengan format H3 ketimbang menggunakan H4 setelah H2. Selain itu, pastikan juga kata kunci yang kamu gunakan berada di H2, karena Google mendeteksi hal ini untuk menempatkan tulisanmu pada ranking tertentu di halaman pencarian.

Simpulan

Heading merupakan komponen penting yang harus selalu ada dalam setiap tulisan yang akan kamu unggah ke blogmu. Selain membedakan ukuran judul subbab dengan body text, heading juga berfungsi sebagai penunjang SEO yang secara otomatis dideteksi oleh Google. Jika kamu dapat menggunakannya secara optimal, tentunya hal ini dapat meningkatkan kunjungan di blogmu.

Jika blogmu sudah memiliki banyak pengunjung, pertimbangkan untuk mengubahnya menjadi lebih profesional dengan membuat website. Selain meningkatkan jumlah pengunjung, informasi yang dibagikan di website juga lebih kredibel sehingga bisa digunakan sebagai kutipan karya ilmiah. Tapi ingat, gunakan cloud hosting terbaik di Indonesia yang siap menangani website-mu 24/7 agar tidak eror saat menerima banyak pengunjung. Akan lebih baik jika website yang kamu miliki mempunyai domain yang gratis seumur hidup.

Baca juga: 17 Mitos seputar SEO – Update 2018

Setelah melihat cara menggunakan heading untuk tulisanmu di blog WordPress, adakah yang belum kamu pahami? Tinggalkan komentar di bawah ya!

Cloud Hosting Terbaik di Indonesia