Lebih Jauh tentang Manual Penalty & Google Panda

google-panda

Seperti kita tahu, Google menggunakan beberapa algoritma untuk menentukan peringkat sebuah situs web dalam hasil pencarian. Tiga di antaranya adalah Google Panda, Google Penguin, dan Google Hummingbird yang nyaris setiap tahunnya selalu diperbaharui. Ya, nama-nama hewan itu memang terdengar lucu dan menggemaskan. Tapi tidak akan selucu itu jika situs web kita terkena penaltinya.

Tapi tunggu dulu, sebelum kita melangkah lebih jauh, bagi Anda yang belum begitu familiar dengan istilah-istilah SEO, ada baiknya kita berkenalan dulu. “Tugas mulia” Google adalah memberikan jawaban atas setiap pencarian yang kita lakukan. Ini bukan hal mudah mengingat setidaknya ada 4.71 miliar webpages hingga saat ini. Untuk menetapkan ranking sebuah situs web di search engines itulah Google menggunakan algoritma dan ranking factors.

Apa itu algoritma dan ranking factors?

Algoritma Google adalah sebuah program komputer yang melakukan penghitungan sehingga bisa memberikan jawaban dan hasil terbaik, sesuai dengan yang kita inginkan atau frasa yang kita ketikkan di search engines. Algoritma digunakan untuk mengevaluasi setiap situs web berdasarkan topik dan relevansi. Evaluasi yang dilakukan kemudian dikelompokkan berdasarkan beberapa kriteria, kriteria inilah yang disebut sebagai ranking factors. Ada berapa kriteria? Sampai saat ini, ada 200 kriteria yang memengaruhi peringkat sebuah situs web.

Di post sebelumnya, kita sudah membahas tentang “nasib buruk” yang akan terjadi pada web kita jika terkena Google penalty. Nah, kali ini kita akan membahas 2 jenis penalti lebih jauh lagi: penalti manual dan penalti algoritma.

#1 Google Manual Penalty

Karena tidak semua poin di dalam Google’s quality guidelines dapat dideteksi oleh algoritma, maka Google memberlakukan penilaian secara manual. Ya, penilaian yang dilakukan oleh manusia karena search engines digunakan oleh manusia dan untuk manusia, bukan mesin. Apakah ini artinya Google menilai satu per satu situs web yang ada? Well, tidak begitu tepatnya.

Sejak November tahun 2015, Google mulai memberlakukan manual quality raters. Untuk penjelasan lebih lengkap tentang faktor-faktor penilaian, Anda bisa membacanya dalam general guidelines yang dirilis oleh Google sendiri. Tidak panjang-panjang, kok. Hanya 146 halaman yang semuanya -tentu saja- bahasa Inggris. 😀

Apa yang akan terjadi jika situs web Anda terkena manual penalty? Situs web Anda akan diturunkan peringkatnya atau dihapus dari search engines.

Ciri-Ciri Manual Penalty:

Berbeda dengan penalti algoritma yang langsung menyapu bersih peringkat situs web tanpa peringatan, Google akan memberi tahu jika situs web kita terkena penalti. Cara paling mudah untuk mengeceknya adalah dengan cara melihat di Google Search Console.

1. Search Console Message

Jika terkena penalti, Anda akan dikirimi pesan berupa pemberitahuan dan jenis penalti yang diberlakukan.

 

manual-penalty

2. Search Console Manual Action

search-console-manual-action

Penyebab Manual Penalty

  1. Akun Anda diretas.
  2. Berisi spam.
  3. Unnatural link dari situs web lain.
  4. Konten yang tidak berkualitas.
  5. Cloaking.
  6. Unnatural link dari situs Anda ke situs lain.
  7. Keyword stuffing.

#2 Google Panda Algorithm

Google Panda adalah kode algoritma Google yang menitikberatkan kepada kualitas situs web dan konten di dalamnya. Dirilis tahun 2011 dan dijalankan setiap bulan pada tahun-tahun pertama. Sekarang hanya dijalankan beberapa kali dalam setahun.

Pengetahuan dasar tentang Google Panda:

  • Penalti diberlakukan kepada situs web yang memiliki konten berkualitas rendah. Tujuannya adalah untuk mencegah situs-situs dengan konten tidak berkualitas tampil di search engines.
  • Jika terkena penalti, Anda tidak akan mendapatkan pemberitahuan seperti penalti manual.
  • Ciri paling jelas dari penalti adalah turunnya peringkat di search engine yang akan menyebabkan turunnya trafik dari organic search.
  • Penalti berlaku untuk SELURUH web yang ada tanpa terkecuali.
  • Penalti bisa berlaku pada satu atau beberapa laman di situs Anda atau pada keseluruhan situs.
  • Update beberapa kali dalam setahun. Jadi jika Anda terkena penalti di periode sebelumnya, Anda harus menunggu sampai periode selanjutnya untuk mengembalikan peringkat situs Anda di search engine.
Ciri-Ciri Google Panda Penalty

Cara paling mudah untuk mengetahui apakah situs Anda terkena dampak Google Panda adalah:

  1. Memerhatikan data di Google Analytics. Google Analytics > Reporting > Acquisition > All Traffic > Source/Medium > Google/organic. Jika terjadi penurunan trafik secara signifikan pada saat atau beberapa waktu setelah Panda’s update, maka Anda terkena penalti. FYI, terakhir kali Panda update adalah bulan Juli tahun 2015 (Panda 4.2) dan belum ada kabar lagi apakah apakah Panda akan kembali update atau refresh. Menurut spekulasi yang beredar sejak bulan Januari 2016 lalu, Goole Panda disebut-sebut akan menjadi algoritma inti. Sayangnya, sampai hari ini kami belum mendapatkan kabar terbaru atau konfirmasi dari Google sendiri.
  2. Menggunakan tools pihak ketiga seperti rankingCoach.
Apa itu High Quality Sites & Content?

Kami tidak akan membahas tentang penyebab penalti Google Panda karena penyebabnya sudah jelas: kualitas situs dan konten. Jadi, situs yang berkualitas itu seperti apa? Kualitas bagi pengunjung atau bagi Google? Well, Google telah merilis 23 daftar pertanyaan mengenai kriteria situs dan konten berkualitas yang sayangnya malah menghasilkan jawaban yang ambigu a.k.a tidak spesifik.

Tapi, atas nama pengetahuan, kami akan mencoba mengintrepretasikannya untuk Anda. Semoga ini membantu banyak:

  1. Would you trust the information presented in this article? ⇨ Berkenaan dengan Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness (E-A-T). Misalnya, untuk konten-konten yang berkenaan dengan medis atau nasihat medis, maka harus ditulis oleh dokter sendiri (atau oleh co-writer-nya).
  2. Is this article written by an expert or enthusiast who knows the topic well, or is it more shallow in nature?   Apakah situs atau konten yang bersangkutan ditulis oleh seseorang yang memang paham tentang topik yang sedang dibahas. Masih ambigu? Ikuti apa yang dikatakan Einstein, “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.” Penulis yang paham tentang topik yang dibahas biasanya mampu menjelaskannya dengan cara sederhana.
  3. Does the site have duplicate, overlapping, or redundant articles on the same or similar topics with slightly different keyword variations?  Apakah situs tersebut sering membahas topik yang sama dengan keyword yang berbeda-beda. Maksudnya, yang dibahas ya itu-itu saja, hanya keyword-nya yang berbeda.
  4. Would you be comfortable giving your credit card information to this site?  Ini berkaitan dengan kepercayaan.
  5. Does this article have spelling, stylistic, or factual errors?  Logikanya, jika Anda seorang webmaster (pemilik web) atau blogger, Anda tentu mengisinya dengan berbagai konten (teks, gambar, video, dll). Untuk bisa mengisi konten dengan teks atau tulisan, Anda tentu harus paham teknik dasarnya terlebih dahulu, bukan? Begitu juga dengan situs-situs perusahaan, setidaknya sebuah perusahaan mampu meng-hire seorang penulis betulan. Jadi kalau ada yang mengatakan untuk membuat dan mengelola situs web Anda tidak harus paham tentang teknik dasar penulisan, sebaiknya Anda berpikir ulang.
  6. Are the topics driven by genuine interests of readers of the site, or does the site generate content by attempting to guess what might rank well in search engines?  Dikembalikan kepada pedoman utama: menulislah untuk manusia, bukan untuk search engines.
  7. Does the article provide original content or information, original reporting, original research, or original analysis? ⇨ Apakah konten-kontennya memang dibuat sendiri ataukah hanya berupa konten tambal-sulam?
  8. Does the page provide substantial value when compared to other pages in search results?  Bandingkan dengan konten-konten sejenis di laman atau situs lain, yang mana yang lebih bermanfaat?
  9. How much quality control is done on content?  Setiap situs memiliki kebijakan QC tersendiri, tapi apakah Anda percaya bahwa situs dan konten ybs. memang telah memenuhi standar kualitas? Setidaknya, standar kualitas yang berlaku umum.
  10. Does the article describe both sides of a story? ⇨ What side? Oh, okay. Maksudnya adalah kadar objektivitas.
  11. Is the site a recognized authority on its topic?   Berkaitan dengan niche atau main business. Misalnya, kami adalah penyedia jasa cloud web hosting. Kalau suatu saat kami membuat artikel tentang cara paling baik untuk memasak rendang, Anda boleh saja tidak percaya (meskipun salah satu staf kami memang bisa memasak rendang).
  12. Is the content mass-produced by or outsourced to a large number of creators, or spread across a large network of sites, so that individual pages or sites don’t get as much attention or care?  Konten yang sama atau nyaris sama di berbagai situs. Contoh paling mudah: placement article.
  13. Was the article edited well, or does it appear sloppy or hastily produced?  Sama dengan poin 5.
  14. For a health related query, would you trust information from this site?  Untuk topik-topik khusus seperti kesehatan, keuangan, atau hobi yang menuntut keahlian, bukankah Anda akan lebih percaya kepada situs yang memang dibuat oleh ahli? Misalnya, ada konten tentang tip memotret (seolah-olah ia ahli) tapi ditulis oleh orang yang bukan fotografer dan hasil fotonya tidak terlalu bagus. Apakah Anda akan percaya dengan apa yang ia katakan (atau tuliskan)?
  15. Would you recognize this site as an authoritative source when mentioned by name?  Nyaris sama dengan poin 11.
  16. Does this article provide a complete or comprehensive description of the topic?  Apakah konten di dalam situs ybs. dibahas dengan lengkap, tuntas, dan deskriptif?
  17. Does this article contain insightful analysis or interesting information that is beyond obvious?   Tergantung kepada wawasan dan pengalaman pembaca, sebuah artikel kadang mudah atau bahkan sangat sulit dimengerti. Tapi, kembali lagi kepada apa yang dikatakan oleh Einstein, seseorang yang mengerti betul tentang topik yang sedang ia bahas, maka ia mampu menjelaskannya dengan sederhana.
  18. Is this the sort of page you’d want to bookmark, share with a friend, or recommend? ⇨ Relatif.
  19. Does this article have an excessive amount of ads that distract from or interfere with the main content?  Situs web dengan banyak iklan yang mengganggu sudah di-black list oleh Google. Kami kira Anda tidak perlu lagi penjelasan lebih lanjut tentang ini. 😀
  20. Would you expect to see this article in a printed magazine, encyclopedia or book?  Relatif.
  21. Are the articles short, unsubstantial, or otherwise lacking in helpful specifics?  Analoginya begini, Anda sedang mencari artikel tentang Google penalty lalu sampailah Anda kepada post ini. Apakah ini membantu Anda memecahkan masalah atau menambah pengetahuan? Jika tidak, please feel free untuk memberi masukan di kolom komentar.
  22. Are the pages produced with great care and attention to detail vs. less attention to detail? ⇨ Sama dengan poin 16.
  23. Would users complain when they see pages from this site?  Situs dewasa, judi, bajakan. (?)

Bagaimana? Sudah menemukan titik terang atau malah semakin bingung dan ambigu? Mari kami simpulkan untuk Anda. So, situs dan konten berkualitas adalah:

  1. Konten yang dibuat dengan baik dan memenuhi standar teknis penulisan (stuktur kalimat, ejaan, minimalisasi typo, dll).
  2. Konten yang diulas dengan komprehensif dan deskriptif.
  3. Konten yang dibuat oleh penulis yang memang paham betul tentang apa yang ia tuliskan. Bisa dilihat dari seberapa jelas ia menerangkan atau latar belakang penulisnya.
  4. Konten berisi data valid, bukan rekaan.
  5. Konten yang bermanfaat (hiburan, edukasi, informasi, dll).
  6. Tambahan dari kami, konten berkualitas adalah juga konten yang memikat pembaca.

Kuratif dan Preventif

Dari beberapa kriteria tentang konten berkualitas baik itu dari Google maupun dari yang kami simpulkan, maka dapat ditarik garis bahwa faktor yang paling memengaruhi Google Panda adalah:

  • Jumlah kata.
  • Duplikasi konten.
  • Komen spam.
  • Ejaan.
  • Value.
  • Low quality content.
  • Unnatural link.
  • Afiliasi.

Jika situs Anda disinyalir terkena Goole Panda penalty atau ingin mencegah terkena penalti, maka yang harus Anda lakukan adalah:

  1. Ketahui dengan pasti tentang konten yang tidak SEO friendly.
  2. Jika Anda sudah mengetahui laman mana yang terkena penalti, langkah paling bijaksana adalah dengan menambah … jumlah kata? Bukan, bukan itu. Tapi dengan memperbaiki kualitas kontennya. Misalnya, konten sebelumnya hanya berisi ulasan “seadanya” tentang suatu topik. Maka edit agar ulasan yang Anda buat jadi lebih lengkap.
  3. Konten, foto, komentar, atau apa pun yang sudah pernah Anda hapus dari situs akan memberikan impresi buruk terhadap pengguna dan search engine. Cari tahu jenis crawl error reports-nya, perbaiki, lalu ajukan kembali sitemaps ke Google.
  4. Jika ada beberapa laman yang merupakan duplikasi (entah itu judul sama, konten nyaris sama), sebaiknya satukan ke dalam satu konten.
  5. Hapus semua komen spam.
  6. Perbaiki ejaan.
  7. Gunakan rel=”no-follow” untuk semua link berbayar.
  8. Hati-hati menempatkan iklan di dalam konten, jangan sampai mengganggu atau lebih banyak iklan daripada kontennya.
  9. JANGAN PERNAH meletakkan ads atau afiliasi di tengah konten dengan tujuan untuk menjebak pembaca. Kecuali jika Anda memang sedang membahas atau mempromosikan afiliasi Anda (tetap gunakan rel=”no-follow”). Bagaimana dengan ads yang tidak bisa Anda kendalikan seperti di WordPress gratis? Iklannya ada di akhir konten, kan? Jadi tidak masalah.
  10. Bagaimana dengan afiliasi di sidebar? Well, Google tidak melarang kita untuk mendapatkan penghasilan dari blog, bukan? Anda yang menentukan akan seperti apa situs Anda. Apakah itu situs penuh konten bermanfaat ataukah situs penuh iklan?

*

Semakin khawatir? Saran kami sih jangan terlalu. Anggap saja pembahasan kita kali ini sebagai pengetahuan dan agar kita semakin berhati-hati. Google manual penalty dan Google Panda penalty memang terdengar menakutkan, terutama bagi yang berbisnis online. Tapi, sekali lagi, tetaplah membuat konten berkualitas dan bermanfaat bagi pembaca. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di pembahasan selanjutnya.

1,760 total views, 10 views today