Konten Blog Berkualitas Belum Tentu Memikat Pembaca

CARA MEMBUAT KONTEN YANG MEMIKAT PEMBACA

Konten berkualitas, parameternya mudah diketahui karena lebih banyak berhubungan dengan masalah-masalah teknis dan memiliki landasan teori. Tapi konten berkualitas yang memikat pembaca adalah hal lain lagi karena sangat berhubungan dengan selera yang notabene relatif. Untuk membuat sebuah konten yang dibaca dari awal sampai titik terakhir, seorang penulis mesti memiliki pengetahuan psikologi, ilmu komunikasi, dan analisis demografi.

Kedengarannya kok sulit sekali, ya? Tidak juga sih, justru lebih mudah ketika dipraktikkan. Jadi, mari kita mulai:

Cara Membuat Konten yang Memikat Pembaca

Dilihat dari sisi pembaca, konten bisa dikategorikan ke dalam dua macam:

  • Yang dibaca karena informasinya dibutuhkan. Contoh, konten-konten how to, step by step, dan tutorial.
  • Yang dibaca karena memang si pembaca menyukainya, apa pun jenis kontennya.

Di sinilah seorang penulis ditantang: untuk membuat konten berkualitas yang memberikan manfaat sekaligus dibaca dari kata pertama hingga titik terakhir.

1.Kenali Pembaca & Konten Anda

Perhatikan statistik demografi pembaca, jenis kelaminnya, usia, domisili, profesi (jika memungkinkan), dan topik-topik yang menjadi ketertarikan mereka. Simpan daftar itu lalu lakukan analisis lainnya:

  • Cari tahu konten atau topik seperti apa yang paling banyak dibaca. Anda bisa melihatnya di pageview.
  • Cari tahu konten atau topik seperti apa yang paling banyak memicu reaksi. Paremeternya adalah komentar dan share.

Contoh, Anda tahu bahwa para pembaca Anda adalah para perempuan usia 25-35 tahun, tinggal di kota besar, tingkat pendidikan sarjana, 35% ibu rumah tangga + 65% ibu bekerja. Dengan maksud untuk memberikan edukasi, Anda membuat konten berisi cara memasang instalasi listrik di rumah. Konten yang Anda buat memang informatif dan bermanfaat, tapi apakah itu menarik bagi pembaca Anda?

2. Gaya Bertutur atau Gaya Bahasa

Tolong bedakan antara gaya bertutur dengan teknik kepenulisan. Misalnya, pemilihan kata ganti (aku, saya, gue, ane, dll) adalah gaya bertutur, ejaan dan tanda baca adalah teknik kepenulisan yang sebaiknya tidak dilanggar.

Gaya bertutur juga berkaitan dengan cara Anda berkomunikasi dengan pembaca. Situs apa pun yang Anda miliki, blog personal atau perusahaan, harap diingat bahwa tidak ada seorang pun pembaca yang suka berbicara dengan mesin atau robot. Jadi, sebaiknya perhatikan gaya bertutur. Setiap penulis pasti memiliki ciri khasnya masing-masing, gunakan ciri khas itu sebagai unique value.

  • Konten yang memikat adalah konten yang enak dibaca. Karena bahasa tulisan tidak memiliki intonasi, baca konten yang Anda buat dengan suara keras. Jika terasa enak dibaca, congratulation. Jika tidak, silakan edit kembali.
  • Komunikatif. Yang dimaksud dengan komunikatif adalah bahwa pesan yang Anda sampaikan mampu diterima dan dimengerti dengan baik, tidak ambigu, dan tidak multi tafsir. Tempatkan pembaca sebagai lawan bicara, tanyakan pendapat mereka, berikan ruang untuk interaksi, dan “bujuk” pembaca agar memberikan reaksi.
  • Konsisten. Apa pun gaya bahasa yang Anda pilih, entah itu formal, setengah formal, atau gaul sekalipun, pastikan konsisten dengan itu.

3. Validitas

“Tulislah apa yang kamu ketahui, dan ketahuilah apa yang akan kamu tulis.” Familiar dengan kalimat ini? Konten blog, meskipun bersifat personal dan testimoni, namun tetap harus didasari dengan data-data yang valid. Misalnya, dalam sebuah postingan, Anda mengatakan bahwa blog Anda banyak pengunjungnya. Sebanyak apa? Statistiknya?

Itu baru jumlah visitor. Bagaimana kalau yang Anda bahas adalah data-data yang merupakan informasi publik? Tingkat kemiskinan di Jakarta, misalnya. Anda tidak bisa begitu saja mengatakan, “Di Jakarta ini banyak orang miskin,” tanpa memberikan data yang valid. Penulis yang cerdas akan melakukan riset di BPS terlebih dahulu dan menyebutkan angka, kalau perlu grafik.

Kenapa validitas informasi ini penting? Karena validitas akan membangun kredibilitas yang artinya membangun kepercayaan dari pembaca. Dan situs yang kredibel akan memikat pembaca dengan sendirinya.

4. Empati dan Peka

Tidak usahlah jauh-jauh membahas isu-isu sensitif, mari kita membahas yang dekat-dekat saja. Meskipun Anda sudah mengetahui demografi pembaca, tapi ada hal-hal yang tidak bisa Anda terka. Misalnya, Anda sedang membahas sebuah menu di restoran, katakanlah sop kambing. Begini cara Anda mendeskripsikan:

“Rasanya enak sekali. Harganya juga murah, hanya 350 ribu per porsi.”

Ada 3 poin utama dalam 2 kalimat di atas:

  • Enak – berkaitan dengan selera.
  • Murah – opini, berkaitan dengan daya beli.
  • 350 ribu – berkaitan dengan data.

Jika Anda penulis yang peka, Anda tidak akan mengatakan 350 ribu itu murah karena harga sebanyak itu sama dengan harga makanan standar hotel bintang lima. Masalahnya, apakah Anda tahu daya beli para pembaca Anda? Yang tadinya ingin memberikan opini, salah-salah Anda malah ditinggalkan pembaca.

Lalu bagaimana sebaiknya? Ada beberapa cara:

  • Rasanya enak sekali. Harganya 350 ribu per porsi. ==> Hanya ungkapkan data, tidak usah memberi opini.
  • Rasanya enak sekali. Untuk restoran kelas internasional, harga 350 ribu per porsi saya kira cukup masuk akal. ==> Memberikan deskripsi tentang “kelas” sehingga pembaca tidak salah tafsir.
  • Rasanya enak sekali. Harganya 350 ribu per porsi karena karena daging yang digunakan adalah daging impor dari bla bla bla, dimasak dengan cara bla bla bla, bermanfaat untuk bla bla bla. ==> Menjelaskan manfaatnya.

5. Diksi 

Diksi (pemilihan kata atau istilah) akan memengaruhi apakah informasi yang kita sampaikan dimengerti atau tidak oleh pembaca. Setiap pembaca memiliki tabungan kosakata yang berbeda-beda, tergantung kepada wawasan mereka. Jika blog kita memiliki segmen pembaca yang sangat spesifik, pemilihan kata tidak terlalu menjadi masalah. Misalnya, blog khusus mahasiswa kedokteran, blog khusus para pemrogram, dan lain-lain. Tapi, jika segmen pembaca kita tidak begitu spesifik, sebaiknya pilih kata atau istilah yang lebih umum.

Tip:

  • Hindari terlalu banyak menggunakan istilah asing. Jika istilah asing tersebut memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, sebaiknya gunakan bahasa Indonesia. Contoh: download – unduh, upload – unggah.
  • Jika menggunakan istilah bahasa Indonesia yang tidak begitu familiar, gunakan keterangan di dalam kurung. Contoh: Prefiks (awalan) di- ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
  • Nama lembaga, nama program, dan peranti lunak tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Contoh: Facebook, SSL Certificates, Ms. Word.

6. Variatif

Kegagalan seorang penulis adalah ketika ia membuat pembacanya bosan. Meskipun Anda sudah mengetahui topik-topik yang paling disukai oleh pembaca web Anda, tapi itu bukan berarti Anda bisa menulis topik yang sama setiap kalinya.

  • Sajikan jenis konten bervariasi. Misalnya, hari ini tentang konten, dua hari kemudian tutorial cara memasang domain di blogspot, lalu reportase event, dan seterusnya.
  • Selain itu, kita juga tidak bisa mengabaikan keberadaan konten yang ramah SEO dan konten yang ramah media sosial atau viral.

7. Struktur Konten

Coba bayangkan ketika Anda membaca konten sepanjang 2 ribu kata yang semuanya berbentuk paragraf, tidak ada jeda, tidak ada subtopik, tidak ada numbering, bahkan tidak ada image. Lelah, bukan? Karena membaca konten di situs web artinya membaca melalui layar. Mata manusia akan cepat lelah jika dibandingkan dengan membaca di kertas. Agar konten Anda tetap memikat, sebaiknya bagi konten ke dalam sub-subtopik. Selain infromasinya akan lebih mudah dicerna, ini juga berfungsi sebagai jeda.

8. Show, Don’t Tell

Meski sama-sama media komunikasi visual, tapi tulisan berbeda dengan gambar. Ketika kita ingin mendeskripsikan kecepatan loading website, misalnya, dengan gambar kita hanya perlu memperlihatkan satu atau dua grafik. Dengan tulisan, bisa saja memerlukan 2-3 paragraf.

Untuk memikat pembaca melalui tulisan, artinya kita juga harus bisa “mengaktifkan” panca indera mereka. Caranya adalah dengan membuat tulisan yang deskriptif.

9. Latihan

Tidak ada satu pun keahlian yang didapat tanpa latihan, begitu juga dengan menulis. Produktivitas menulis biasanya sebanding lurus dengan peningkatan kualitas. Temukan tipe pembaca Anda, gunakan gaya bahasa yang paling pas, perhatikan feedback, dan lakukan dengan konsisten.

*

Konten merupakan media komunikasi. Media yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan, ide, dan informasi. Agar pesan itu sampai, maka pesan itu harus dibaca terlebih dahulu, bukan? Nah, di media online, cara membuat konten berkualitas dan memikat memang menjadi tantangan tersendiri bagi para penulis.

Demikian pembahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat. Konten berkualitas memang belum tentu mampu memikat pembaca, tapi konten yang memikat sudah pasti berkualitas.