Shared Hosting vs Cloud Hosting – Bagian 1

Shared Hosting (Hosting Tradisional) adalah konsep penggunaan web hosting yang kini umum ada dimana-mana.  Teknologi ini sudah berjalan cukup lama bahkan bisa dikatakan berjalan bersamaan dengan perkembangan dunia internet itu sendiri.  Walau mungkin tidak ada tonggak sejarah yang pasti kapan dimulainya shared hosting, namun bisa kita katakan bahwa Geocities adalah perusahaan yang menjalankan shared hosting pertama kali pada 1994 (kala itu dikenal dengan nama BHI, Beverly Hills Internet).  Dengan munculnya teknologi hosting yang terbaru yakni Cloud Hosting, maka teknologi Shared Hosting yang lama kini juga dikenal dengan sebutan “Hosting Tradisional”.

Sesuai dengan namanya, shared hosting (hosting “berbagi”) pada dasarnya adalah penggunaan 1 server oleh banyak pengguna (user) secara bersama-sama.

Ada beberapa masalah yang terjadi dengan penggunaan server secara berbagi pakai seperti ini, antara lain:

  1. Kemacetan Lalu Lintas Dalam Server (topik ini dibahas secara khusus di artikel kali ini)
  2. Bahaya Hacker dan Malware (topik ini dibahas pada bagian kedua artikel ini)
  3. Server Down (topik ini dibahas pada bagian ketiga artikel ini)

MASALAH 1:  Kemacetan Lalu Lintas Dalam Server

Sebuah web server pada dasarnya adalah sebuah komputer yang dilengkapi dengan sejumlah sumberdaya (resources) yang sifatnya terbatas. Sumberdaya yang dimaksud adalah kekuatan prosesor (CPU), memory (RAM), dan kapasitas hard disk (Storage atau Disk Space).

Idealnya, sebuah web server hanya melayani 1 orang pengguna (1 buah website) saja.  Namun mengingat sumberdaya server yang umumnya jauh lebih besar ketimbang komputer PC biasa, agak disayangkan kalau hanya digunakan untuk melayani 1 buah website saja.  Inilah ide awal munculnya konsep shared hosting, yakni 1 buah web server dibagi-pakai oleh banyak pengguna, agar sumberdaya yang lumayan besar itu “tidak mubazir” dan bisa dengan lebih efisien digunakan bersama-sama.

Setiap pengguna/website yang di-host-kan pada web server yang sama, akan menggunakan sumberdaya server yang sama pula. Ini artinya setiap website akan berada di harddisk server yang sama, menggunakan prosesor (CPU) server yang sama, dan menggunakan memory (RAM) server yang sama pula.

Pada lingkungan shared hosting, tiap-tiap pengguna/website hanya bisa dibatasi penggunaan disk space (kapasitas disk) nya saja, namun tidak bisa dibatasi penggunaan CPU dan RAM nya (karena pada dasarnya semua user di server yang sama menggunakan CPU dan RAM yang sama juga!)

Padahal pada kenyataannya, penggunaan sumberdaya dari masing-masing website akan berbeda-beda.  Ada website yang tidak terlalu banyak menggunakan kekuatan CPU dan RAM, ada juga website yang amat sangat menuntut penggunaan kekuatan CPU dan RAM dalam jumlah yang cukup besar (resource hungry).  Ada website yang mungkin hanya berukuran beberapa MB saja, ada juga website yang amat besar ukurannya bahkan hingga beberapa GB.

Bayangkan jika pada satu web server yang sama ada 100 orang user (atau 100 buah website yang di-hostingkan bersama-sama).  Anggaplah 95 website-website tersebut adalah website-website “biasa”, mungkin hanya berupa blog pribadi atau toko online berukuran menengah.  Lalu 5 diantaranya, adalah website-website berukuran besar dengan jumlah traffic yang juga besar, misalnya sebuah forum diskusi yang sudah terkenal atau website berita yang sering dikunjungi orang.

Suatu ketika, salah satu dari website besar tersebut mengadakan suatu sayembara.  Singkat cerita – oleh karena sayembara tersebut – pengunjung website tersebut melonjak amat sangat tinggi.  Tentu untuk bisa melayani lonjakan traffic yang amat besar tersebut, sang web server harus mengalokasikan sumberdaya kekuatan prosesor (CPU) dan memory (RAM) yang cukup besar, katakanlah 75% dari total keseluruhan kemampuan CPU dan RAM yang dimilikinya.

Sisa sumberdaya yang ada, yakni 25% sisanya, terbagi untuk bisa melayani 95 website “kecil” lainnya dan juga 4 website besar yang berada di server tersebut.  Tentu tanpa harus kita bersusah payah menghitung, kita bisa membayangkan seberapa sedikitnya sumberdaya yang dialokasikan untuk melayani kesemua website-website tadi, bukan?

Ketika ini terjadi, maka masalah Kemacetan Lalu Lintas Dalam Server pun terjadi.  Oleh karena lonjakan traffic dan penggunaan sumberdaya yang tidak adil oleh salah satu/segelintir website pada server tersebut, website-website “tidak bersalah” sisanya yang akan kena akibatnya.  Mereka tiba-tiba mengalami berbagai masalah yang bukan disebabkan oleh kesalahan mereka.

Pesan-pesan error seperti “Connection Timeout”, “Too Many Connections”, “Cannot connect to website”, dan lainnya tiba-tiba muncul di layar browser para pelanggan/traffic website-website “kecil” tadi.  Pesan-pesan error ini, walau berbeda-beda pengertiannya, namun pada dasarnya menyampaikan 1 hal yang sama: web servernya sudah mulai overload karena kehabisan tenaga (sumberdaya)!

Tentu bisa Anda bayangkan jika para pelanggan Anda mengalami kesulitan atau hambatan dalam mengakses website Anda, apa jadinya?  Dan yang amat disayangkan adalah problem dalam mengakses website Anda tersebut – di lingkungan shared hosting (hosting tradisional) ini – belum tentu disebabkan oleh karena kesalahan Anda!

Jika misalnya Anda-lah pemilik salah satu website yang termasuk resource hungry tersebut dan Anda melaporkan hal ini kepada mereka, umumnya tindakan dari pihak provider hosting Anda adalah salah satu dari yang berikut ini:

  • Meminta Anda untuk meng-upgrade paket hosting yang kini sedang Anda gunakan ke Virtual Private Server (VPS) atau Dedicated Server yang sudah pasti harganya jauh lebih mahal dan juga merepotkan karena berarti website Anda harus dipindahkan secara manual.
  • Website Anda akan di-throttle (dibatasi secara paksa) sehingga akses menjadi lebih lambat dari yang seharusnya.
  • Ini yang lebih parah, website Anda malah di-suspend atau di-stop sementara oleh mereka supaya tidak menimbulkan kemacetan atau overload dalam server.

Kesimpulan:  di lingkungan shared hosting (hosting tradisional), akibat alokasi atau pembagian sumberdaya server yang tidak adil dan tidak jelas, sehingga mengakibatkan kerugian kepada pihak pelanggan yang sebenarnya tidak bersalah.

SOLUSI CLOUD HOSTING DEWAWEB:  Upgrade Cloud Power Website Anda Kapan Saja!

Dengan teknologi CloudLinux, setiap Paket Cloud Hosting Dewaweb memberikan jaminan alokasi prosesor (CPU) dan memory (RAM) untuk setiap website yang ditampilkan dengan jelas di cPanel Anda. Ini membantu Anda memonitor sendiri berapa banyak sumberdaya CPU dan RAM yang dipakai oleh website Anda secara real time.

Ketika kebutuhan penggunaan sumberdaya website Anda meningkat, Anda bisa dengan mudah Upgrade Cloud Power Website Anda ke paket Cloud Hosting yang lebih tinggi langsung dari Client Portal Dewaweb. Upgrade ini bisa dilakukan kapan saja dan biaya hosting yang sudah dibayar akan diperhitungkan secara pro-rata ke harga paket yang baru.

Contoh kasus:
Seorang pelanggan (jualan.com) mengambil paket cloud hosting Crusader di Dewaweb dan mendapatkan alokasi sumberdaya 1 CPU Core dan 256 MB RAM. Ternyata karena websitenya sukses sekali dan ramai dikunjungi, pemakaian memory (RAM) melonjak menjadi 246 MB dari 256 MB yang dialokasikan. Website mulai menjadi lebih lambat karena pemakaian memory sudah hampir full.

Statistik pemakaian sumberdaya website jualan.com (sebelum upgrade):

Dewaweb - Simulasi Cloud Power (before)

Pelanggan melalui Client Portal Dewaweb langsung memesan upgrade ke paket cloud Paladin yang memberikan alokasi sumberdaya lebih besar yaitu 2 CPU Cores dan 512 MB RAM. Setelah upgrade dilakukan, maka website langsung kembali menjadi cepat dan lancar diakses karena sudah mendapatkan kapasitas memory yang lebih besar (512 MB) dan juga tambahan sumberdaya CPU yang lebih cepat (2 CPU).

Statistik pemakaian sumberdaya website jualan.com (setelah upgrade ke paket Paladin):

Dewaweb - Simulasi Cloud Power (after)

Kesimpulan:  dengan cloud hosting, alokasi sumberdaya server sangat adil dan jelas, sehingga menguntungkan semua pihak. Pelanggan pun bisa memonitor sendiri statistik penggunaan sumberdaya di website secara real time.

Silahkan lanjutkan ke Shared Hosting vs Cloud Hosting Bagian 2

29,484 total views, 12 views today

  • Pingback: Shared Hosting vs Cloud Hosting – Bagian 2()

  • Pingback: Shared Hosting vs Cloud Hosting – Bagian 3()

  • www.emhaemen.com

    Jadi pengen pake cloud hosting. Tunggu tanggal mainnya…

  • Sangat bisa dipahami, terima kasih penjelasannya yang panjang.

  • Dwi Waskito

    Artikelnya tidak tepat. Itu adalah keunggulan CloudLinux dan bukan Cloud hosting. Cloud linux adalah sistem operasi, sedangkan cloud hosting itu teknik menggabungkan beberapa server.

    Kesimpulan: di lingkungan shared hosting (hosting tradisional), akibat alokasi atau pembagian sumberdaya server yang tidak adil dan tidak jelas, sehingga mengakibatkan kerugian kepada pihak pelanggan yang sebenarnya tidak bersalah.

    Kesimpulan itu juga tidak tepat. Kalau shared hosting pakai CloudLinux maka pembagiannya akan jelas.

    • Betul sekali Pak. Memang Dewaweb menggunakan CloudLinux. Namun Dewaweb tetap menyebut Cloud Hosting karena memang kami menggunakan teknologi Cloud dari level hardware, software, dan network, sehingga mengurangi downtime. Selengkapnya dapat dilihat pada blog kami berikut ini https://www.dewaweb.com/inside-dewaweb-high-performance-cloud-hosting/. Terima kasih atas perhatiannya. 🙂