dewaweb-blog-emotional-marketing

Jika Anda sedang mencari panduan lengkap soal emotional marketing sebagai suatu strategi bisnis, Anda perlu baca artikel ini. Kami akan membahas apa itu emotional marketing, mengapa perlu diaplikasikan pada bisnis Anda dan bagaimana tipsnya agar pesan pemasaran Anda efektif dan branding serta penjualan Anda bisa meningkat!

Apa itu Emotional Marketing?

Emotional marketing adalah strategi pemasaran yang bertujuan untuk membangkitkan emosi pasarnya yang dijadikan penerima pesan dan target pemasaran.

Dalam banyak kasus, tujuannya untuk membangkitkan emosi yang positif terkait dengan suatu merek/brand atau perusahaan. Namun memang dalam beberapa kasus yang akhir-akhir ini kerap terjadi pesannya justru sengaja untuk menimbulkan emosi yang kurang menyenangkan atau negatif (pesan pemasaran seperti ini biasanya yang terkait dengan hal-hal kemanusiaan atau sosial).

Mengapa Anda Harus Mengaplikasikan Emotional Marketing?

Ada banyak penelitian tentang kekuatan emosi yang membuat kami merasa bahwa strategi satu ini penting untuk setidaknya Anda para pebisnis ketahui, baik itu dari perspektif pemasaran maupun non-pemasaran.

Sebuah jurnal emotional marketing pada tahun 2012 dari Brain Juicer Labs menunjukkan sejumlah studi psikologis dan data survei tentang tanggapan emosional orang-orang terhadap berbagai jenis iklan dari Institute of Practitioners in Advertising (IPA).

Simpulannya adalah untuk memahami kekuatan dari pemasaran, kita perlu memahami cara otak kita membuat keputusan berdasarkan sejumlah stimulus yang diberikan. Psikolog perilaku telah memecah proses ini menjadi dua sistem yang berbeda sebagai berikut!

  • Sistem Cepat

Sistem cepat ini berarti pengambilan keputusan bersifat intuitif, perseptif, dan sangat cepat. Ini juga terjadi di bawah alam sadar, yang berarti sepenuhnya tidak sadar. Tidak seperti sistem yang lebih rasional di sistem lambat.

  • Sistem Lambat

Sistem lambat yaitu bagian yang analitis dan diatur dari pengambilan keputusan seseorang dan apa yang seseorang itu pikir harus digunakan secara eksklusif. Ini adalah yang rasional dari otak manusia yang bisa membantu untuk memahami dan mengatasi masalah sehari-hari serta dilema dunia di sekitar kita.

Sistem-sistem inilah yang berfungsi menghasilkan kesan-kesan asosiatif, perasaan dan emosi dalam otak kita yang menyebabkan kita bereaksi terhadap hal-hal tertentu dengan cara-cara tertentu. Sistem-sistem ini jugalah yang memengaruhi pengambilan keputusan seseorang, termasuk audiens pemasaran Anda.

Mari kita telaah lebih dalam lagi bagaimana kemampuan untuk memengaruhi sistem yang dipikirkan seseorang tersebut dapat memegang peranan penting untuk menyusun strategi pemasaran bisnis yang kuat dan sangat efektif.

Tidak Hanya untuk Jenis Pemasaran B2C, B2B Juga Butuh Emotional Marketing

Banyak pebisnis berasumsi kalau dua sistem pemasaran yang kami sebutkan sebelumnya itu hanya memengaruhi target pasar B2C saja, sementara pemasaran B2B lebih tepat dengan cara konvensional yang tak terlalu melibatkan aspek psikologi audiens semacam emotional marketing.

Sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh Marketing Leadership Council CEB bersama Google , telah menunjukkan bahwa pemasaran yang dilakukan dengan strategi emosional lebih efektif dalam mendorong target pasar mengambil keputusan pada B2B. Jadi, asumsi kalau B2C saja yang perlu teknik emotional marketing itu sebenarnya salah.

Dari ratusan merek B2C yang diteliti, hubungan emosional dengan konsumen cenderung antara 10% dan 40%. Tujuh dari sembilan merek B2B yang dipelajari melampaui angka 50%.

Pembeli B2B hampir 50% lebih diketahui mungkin untuk membeli produk atau layanan ketika mereka melihat nilai pribadi (yaitu peluang untuk kemajuan karier atau kepercayaan diri dan kebanggaan dalam pilihan mereka).

Tapi tentunya menerapkan strategi bisnis yang biasa dilaksanakan oleh B2C ini tidak mudah bagi B2B. Anda perlu berhati-hati. Untuk itu, ikuti tips-tips yang kami berikan berikut agar pemasaran Anda berhasil!

Tips Emotional Marketing agar Branding dan Selling Meningkat

Kami menyarankan Anda untuk memahami psikologi dasar manusia, terutama yang terkait dengan emotional marketing seperti berikut ini!

Manusia pada dasarnya memiliki 5 emosi dasar. Pernah menonton film animasi Inside Out?

Emotional Marketing Example Inside Out- Dewaweb

Seperti pada karakter-karakter di film tersebut, kelima emosi tersebut adalah:

  • Perasaan Jijik
  • Perasaan Takut
  • Perasaan Senang
  • Perasaan Sedih
  • Perasaan Marah

Emosi-emosi itu tak hanya sekadar ekspresi/perasaan tapi dapat pula memengaruhi pengambilan keputusan seseorang. Dengan memancing perasaan audiens Anda, emotional marketing bisa berjalan. Anda tingal pilih jenis emosi mana yang ingin diasosiasikan dengan pesan marketing Anda.

Contohnya seperti video berikut. Perasaan yang ingin diolah adalah campuran dari berbagai emosi yaitu sedih sekaligus marah. Silakan ditonton, semoga video ini bisa memberi inspirasi bagi kampanye bisnis Anda!

 

Bagaimana, apakah Anda juga merasakan kedua emosi tersebut ketika menontonnya? Jika Anda berpikir bahwa meninggalkan atau mengabaikan hewan adalah buruk, berarti Anda telah berhasil menerima pesan yang disampaikan oleh pembuat konten.

Emotional Marketing Example 1 - Dewaweb

Setelah membaca artikel yang dipublikasikan oleh Hubspot yang berjudul Emotional Advertising: How Brands Use Feelings to Get People to Buy , dapat diketahui beberapa koneksi antara perasaan tertentu dan reaksi audiens di platform online.

Rasa senang bisa picu orang untuk lebih banyak share. Orang yang merasa senang setelah menerima pesan emotional marketing Anda cenderung terdorong untuk membagikan kesenangan tersebut. Rasa senang juga tentunya mengimplikasikan pelanggan berbahagia atau merasa puas akan brand/perusahaan Anda.

Konten pemasaran yang menyedihkan picu orang untuk lebih banyak klik. Konten yang menimbulkan emosi negatif cenderung menarik perhatian orang-orang. Namun dalam kasus emotional marketing satu ini, belum tentu orang mau melakukan share/berbagi ke orang lainnya yang mereka kenal di media sosial atau platform digital lainnya yang mereka punya.

Perasaan takut ataupun kaget yang ditimbulkan emotional marketing memberi urgensi pada audiens untuk melakukan sesuatu/bertindak. Kasus satu ini berguna untuk menyampaikan pesan layanan masyarakat atau hal-hal yang sifatnya nirlaba/sosial/aktivisme. Konten menakutkan memang sangat cepat jadi viral. Tapi sebaiknya Anda hati-hati, jangan sampai terlalu kontroversial hingga membuat orang membenci brand/perusahaan Anda.

Terakhir, konten yang membuat marah atau jijik bisa mengundang banyak komentar dari audiens Anda. Kedua emosi ini bisa dibilang susah dipacu karena butuh pesan yang sangat kuat dari emotional marketing Anda. Jarang pula digunakan oleh brand atau perusahaan ternama di seluruh dunia.

Walaupun begitu, Anda perlu ingat bahwa daya tarik emosional dalam pemasaran bisnis sebenarnya menghadirkan risiko, inilah yang mungkin jadi alasan mengapa beberapa brand masih menjauhi strategi kreatif ini. Berlebihan dalam penerapan daya tarik emosional dapat menjadi bumerang dan terasa bagai manipulasi bagi audiens, yang bisa saja mengikis rasa percaya dan keandalan yang tadinya ingin Anda hadirkan.

Lakukanlah pemasaran Anda dengan benar maka emotional marketing Anda sukses dengan konten yang tersampaikan secara efektif. Selanjutnya, prospek Anda terbangun dengan baik!

Simpulan

Dengan membaca artikel kali ini, Anda telah memahami apa itu emotional marketing dan mengapa menerapkannya pada bisnis Anda menjadi penting. Tak hanya itu, kami juga telah memberikan beberapa tips yang bisa memacu kreativitas Anda dalam menerapkan emotional marketing. Sebagai provider hosting murah, khususnya cloud hosting Indonesia yang telah bersertifikat kualitas internasional , kami berkomitmen untuk mensukseskan Anda secara online.

Anda juga dapat membaca atikel terkait pengembangan bisnis lainnya seperti Panduan Lengkap Google Bisnis dan Alat Tracking Bisnis Google Analytics . Selamat mengembangkan usaha Anda, semoga sukses ya!